ARSIP

CERITA DARI TERENGGANU
  • Akhmad samiri

Terengganu, 10 Juli 2009. Tepat pukul 22.23 Waktu Malaysia sebanyak 12 guru SIK meranjak meninggalkan Kuala Lumpur menuju Kuala Terengganu.Perjalanan memakan waktu 8 jam.
Meninggalkan pusat Kuala Lumpur ke arah Kota Bharu kita akan menemui suasana lain. Dari pusat kota yang terlihat wah kita seolah menemukan sisi lain dari Malaysia. Saat rombongan menahan dinginnya malam, guide Melayu sempatkan singgah di kedai pinggiran kota Batu Besar yang amat dikenal oleh para sopir bus pesiaran.

11 Juli dini hari.Rasa lapar dan haus mesti ditahan karena kita mesti antri lama untuk mendapatkan pesanan. Keinginan buang hajat yang ditahan sejak dari Seremban tak bisa kesampaian.Seolah kembali naik tak mau dikeluarkan. WC pesing dan kotor sekali.Penjaganya nenek tua yang terlalu asyik dengan rokok murahannya.Itulah gambaran nyata dunia pesiaran yang sangat lain dari promosinya.

Perjalanan dilanjutkan hingga menemukan masjid kampung di Kelantan untuk shalat subuh. Sekitar pukul 08.30 waktu Kelantan bus berhenti di depan Masjid kampung yang kosong jamaahnya. Guide menyuruh kita mandi di air pancuran wudlu. Aduh teganya. Terpaksa di dalam batin saja kita bicara.Tidak mandi untuk harga diri kita.

Pukul 09.00 guide menawarkan kita sarapan nasi kerabu dan nasi dagang kas Kelantan. Yang didapat roti canai kedai Mamak.Yach ini emang rejekinya. Terima saja.

Pukul 10.11 studi banding masalah batik dipusatkan di Kedai Sitra Batik Kelantan. Motif batik biasa-biasa saja seperti yang ditemui di The Mall atau di tempat lain di Kuala Lumpur. Yang beda ketika reporter kami menyambangi bengkel kerja batiknya, pekerjanya memakai batik corak Pasar Baru Bandung.

Selesai belanja batik khas Kelantan rombongan menyempatkan photo-photo di Pantai Cahaya Bulan. Sebuah pantai cantik yang masih asli. Asli pantainya. Asli rumah-rumah tradisionalnya, asli keropok lekornya, dan asli orang aslinya.

Perjalanan kami cukup terhibur manakala melihat buah durian ranum-ranum berserakan di sepanjang jalan ke Muzium Adat Kelantan hingga jauh di luar Pasar Siti Fatimah. H.Saparuddin, Nurlaela Enda,dan beberapa kawannya membuat forasi lingkaran biru menimati lezatnya durian Kelantan. Makan siang di Pasar Fatimah dengan nasi kerabu dan sambal fudu memaksa ibu-ibu menjaring ikan keli goreng untuk dimasukkan ke dalam tas jinjingnya. Rasa kesalnya terobati. Kenyang perutnya.

Pukul 14.16 udara panas menyengat pasar Rantau Panjang.Sungai Golok yang membelah Malaysia dengan Thailand masih mengalir pelan dengan air kuning keruh.Plat-plat sepeda motor dan mobil yang berlalu lalang dipenuhi plat-plat Thailan. Maklum orang Melayu Thailand hanya perlu RM 1 untuk bisa masuk imigrasi Malaysia.

Ibu-ibu seperti kuda lepas dari kandangnya.Turun bus langsung serbu pasar. Perkakas dapur, kuali tahan kerak, rantang bertingkat, keropok lekor,beras Thai, tikar bambu, pemanggang ikan, kaos-baju made in Thai, hingga beruang-beruang Thailand membuat bagasi bus tak bisa ditutup.

Sementara Mr. Yusuf membawa rombongan lain menyusuri jalan kecil untuk masuk ke tanah Gajah putih tapi tidak kesampaian.

"Nha, itu khan rumah-rumah yang putih di pinggir Sungai Golok yang namanya Thailand? Banyak kubangan, apa ya cikungunya yang ramai di Malaysia juga ada di sana?" Tanya Mr. Yusuf pada rekannya yang sedang mengadakan liputan di perbatasan.

11 Juli jam 21.00 rombongan masuk chelet sebuah camp di pingir pantai. Udaranya segar. Ombaknya besarnya. Derai gelombang laut terdengar jelas dari pinggiran kamar.Kita berbagi kamar.

Lawatan utama ke Sekolah Menengah Sains Sultan Mahmud ceritanya baca di " SIK STUDI BANDING KE SESMA " saja.

Tentang cerita indah nan tak terlupakan pada episode pulang dari Chelet Agguila akan diceritakan pada skrip tersendiri.

Taman Tamadun Islam dan taman tema menawarkan pengalaman unit. 21 buah monumen Islam yang hebat dengan mengimbas kembali zaman kebangkitan Islam sebagai agama global dan sofisticated berdiri megah alam bentuk mini.

Maskot Taman Tamadun Islam adalah masjid Kristal, yakni masjid yang dilapisi dengan kristal. Pelancong yang datang rasanya tak bosan-bosan mengambil potert diri di depan Masjid Krstal.

Yang menjadi kekaguman penulis dari 21 monumen masjid dunia, ternyata kerajaan Malaysia menempatkan masjid yang didirikan ulama Ja'far Shodik " Menara Kudus" berada pada urutan kedua setelah masjid kebanggaan kerajaan Malaysia" Masjid Negara".

Rasanya datang ke Malaysia tanpa mengunjungi Taman Tamadun Islam tidak akan tahu kalau Malaysia adalah negara Islam. Sungguh, buktikan saja.

Okey, sampai di sini dulu.Jika Anda tak puas, ajak penulis untuk meralat ceritanya.