ARSIP

SIK SAMBUT KOMNAS HAM ANAK
  • Akhmad Samiri

Kuala Lumpur, 15 September

Belajar adalah hak anak. Belajar bukan kewajiban.Orang tua berkewajiban menyekolahkan anaknya. Pemerintah dan masyarakat berkewajiban menyelengarakan terlaksananya proses pendidikan. Anak tinggal belajar. Belajar yang efektif adalah belajar yang menyenangkan. Jangan ada perasaan takut. Jangan minder. Pada dasarnya anak itu cerdas. Jikalau satu aspek ada yang kurang berarti aspek yang lain akan lebih unggul. Kecerdaskan jangan diukur dari otak kiri ( Matematik, sains) saja tetapi diukur juga dari kecerdasan otak kanan (kreativitas, seni). Banyak orang sukses yang lahir bukan dari orang yang berotak brilian dalam eksakta. Tapi lebih banyak pada orang yang mempunyai kreativitas dan berkemampuan keras.

Pemerintah melalui Sisdiknas ( Sistem Pendididkan Nasonal ) telah memberikan otonomi bagi sekolah untuk membuat kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan daerah. Yang penting, pendidikan itu menyenangkan dan menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Sistem yang demikian disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Demikian intisari yang dikemukakan Ketua Komnas Ham Anak, Kak Seto Mulyadi dan Sekjennya, Aries " Merdeka" Sirait saat melakukan temu wicara dengan civitas akademik Sekolah Indonesia Kuala Lumpur ( SIK ), Senin, 15 September.

Menanggapi konsep yang dikemukakan Kak Seto, Kepala SIK, H. Abdul Djawad, S.Pd kembali menyampaikan bahwa SIK telah menerapkan konsep belajar Joy Full Learning (pembelatajaran yang senantiasa menyenangkan ). Konsep ini memang banyak memberikan konstibusi positif dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Metode dan bahan ajar senantiasa dibuat sedemikian rupa sehingga siswa dapat " menikmati" lezatnya belajar.

Kehadiran Komnas Ham Anak menjadi kegembiraan siswa-siswa SIK. Kak Seto mampu menghipnotis anak-anak dengan sulapnya. Kak Seto juga mampu membakar semangat berkompetisi dalam belajar. Tak heran, sekalipun acara berakhir, siswa memaksa Kak Seto menjawab beberapa pertanyaan. Siti Indah Pratiwi ( Iin) dan Norizka Zahra M menanyakan perihal kenyataan yang dihadapi anak yang ingin bersekolah namun terkendala keterbatasan dari orang tua dan sebagai anak kita mesti menurut orang tua. Tak kurang gesitnya, Aray Zaki memberondong pertanyaan tentang bagaimana cara sulapnya. Mau jadi Dedy Corbuzer rupanya.