Mengajak Peserta Ddidik Ber-Literasi

Kuala Lumpur – Pendidikan pada zaman sekarang ini menghadapi tantangan yang sangat komplek. Dari mulai input, proses, prasarana dan output yang kita ingin hasilkan dari institusi atau lembaga pendidikan yang kita kelola.

Belum lagi kalau kita melihat kondisi sosial masyarakat yang berkembang begitu cepat. Diikuti melesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, menambah tantangan dunia pendidikan terasa semakin ruwet dan complicated.

Namun demikian, kita diajarkan untuk tidak pesimis menghadapinya. Sejarah menengarai bahwa, sejauh mana dunia berkembang sejauh itu pulalah manusia (Dalam hal ini dunia pendidikan), bisa mengatasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Satu hal yang harus digarisbawahi, dan kita agak miris mendengarnya. Product yang berkaitan dengan pendidikan yang dijalankan selama ini yaitu; Masih lemahnya para peserta didik Indonesia dalam penguasaan tradisi “baca tulis”. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan kita dewasa ini.

Padahal instrumen dan peralatan teknologi sangat melimpah. Jangan-jangan karena adanya lompatan budaya dan tradisi yang terjadi pada masyarakat kita. Pemikiran manusianya out of date, Mutu pendidikannya abad 19, sedangkan Teknologi yang dinikmati sudah sophisticated dan futuristic.

Sehingga seolah-olah ada korelasinya jika skor membaca siswa-siswi Indonesia hanya 397 dibawah capaian perolehan rerata negara-negara OECD (organisation for economic cooperation and development) peserta PISA (program for international student assessment) yaitu 496, sebagaimana dirilis oleh kemendikbud pada 6/12/2016.

Oleh karenanya para guru dan tenaga pendidik dituntut tidak jemu-jemu untuk terus meningkatkan capaian kemampuan peserta didik dalam hal baca tulis, yang muaranya adalah penguasaan literasi; dari mulai literasi dini, literasi dasar, sampai kepada literasi media, teknologi dan visual.

Kemampuan penguasaan literasi tersebut bisa dimulai dari dan di sekolah. Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan sekolah-sekolah Indonesia lainnya, sudah seharusnya mengajarkan kepada peserta didik pembiasaan iklim berliterasi yang dikembangkan secara terintegrasi dari kurikulum bahan ajar yang ada.

Peserta didik sedikit-demi sedikit dikenalkan dengan melieu aktifitas literasi dari yang sederhana seperti membuat laporan tugas sekolah, laporan praktikum, laporan kepanitiaan. Penulisan cerpen, novel, naskah drama, resensi buku dan film yang mereka konsumsi. bisa juga kegiatan-kegiatan lainnya yang merangsang kepekaan peserta didik pada alam akademis dan ilmiyah dalam berkarya.

Dengan memperbanyak kegiatan yang berkaitan dengan aktifitas baca dan tulis inilah, peserta didik diharapkan terbiasa dengan budaya literasi secara runut dan sesuai, serta tidak mengalami shock culture atau malah gagap dalam berkompetisi dalam hidupnya.(Sltn)