Category Archives: OSIS & MPK

Bpk. Agustinus Suharto Pimpin SIKL

Kuala Lumpur-SIKL: Drs. H. Agustinus Suharto, M.Pd menjabat sebagai Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur yang baru menggantikan Drs. H. Banjir Sihite, M.Pd yang telah berakhir masa tugasnya dan kembali ke tanah air.

Serah terima jabatan telah diadakan pada tanggal 28 Desember 2015 dari Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc selaku Plt. Kepala Sekolah.

Acara tersebut disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Malaysia, Herman Prayitno dan para Home Staff. Hadir juga dalam kesempatan tersebut pengurus Komite Sekolah, beberapa orang guru dan staf administrasi sekolah.

Dalam sambutan Duta Besar, mengajak semua pihak, khususnya kepala sekolah bekerja sama meningkatkan pelayanan pendidikan terhadap warga Indonesia di Malaysia sesuai dengan nawa cita Presiden Jokowidodo.

Selain itu, mengajak kepala sekolah untuk mencetak generasi muda penerus bangsa yang bukan saja mahir dalam akademik tetapi juga memiliki keterampilan lain dalam berbagai bidang.

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Ari Purbayanto menggarisbawahi peran kepala sekolah dan guru membiasakan dan mendisiplinkan siswa dalam berbahasa Inggris supaya siswa SIKL memiliki akses global melalui penguasaan bahasa.

Menanggapi semua itu, kepala sekolah dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Duta Besar dan Atase Pendidikan serta para Home Staff KBRI Kuala Lumpur atas semua masukan dan harapan.

“Dengan pengalaman menjadi kepala sekolah Indonesia di Davao City, Filipina dan beberapa sekolah di Indonesia baik negeri maupun swasta akan menjadi bekal saya berkiprah di Kuala Lumpur ini,” ungkapnya.

Catatan:

  1. Pada tahun 2013 beliau menerima penghargaan Kepala Sekolah berwawasan lingkungan tingkat provinsi Bengkulu.
  2. Pada tahun 2014 beliau menempati urutan ke-3 Kepala Sekolah Berprestasi tingkat nasional.

Siswa SIKL Peserta Terbaik Ke 2 pada Simposium Kepemimpinan Pengawas dan Pembimbing Rakan Sebaya Peringkat ASEAN 2015

(Kuala Lumpur) Ardella Maharani, siswa kelas XI IPA Sekolah Indonesia Kuala Lumpur berhasil meraih predikat sebagai Peserta Terbaik Ke 2 pada Simposium Kepemimpinan Pengawas dan Pembimbing Rakan Sebaya Peringkat ASEAN 2015 yang berlangsung selama 4 hari dari tanggal 16-19 November 2015 di La Boss Hotel Malaka.

Simposium ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia dan bertujuan untuk membentuk kepemimpinan muda yang berkualitas,kritis dan berketrampilan sebagai pelapis kepemimpinan masa depan. Acara ini juga bertujuan meningkatkan kerjasama diantara pemuda pemuda terbaik antar anggota ASEAN serta memberikan ruang kerja sama keilmuan, ide dan keragaman budaya dan pengalaman dikalangan peserta.

Dalam simposium yang diikuti oleh 151 siswa yang berasal dari 4 negara anggota ASEAN yaitu Indonesia, Malaysia, Singapore dan Thailand ini, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur mengirimkan 4 siswa terbaiknya yaitu Ardella Maharani, Danireza Ghiffari Rezasyah, Mufti Perdana Avicena serta Dhyna Annisa Gultom. Seluruh peserta selama 4 hari mengikuti berbagai kegiatan yang sangat beragam yang membutuhkan kemampuan leadership yang tinggi,misalnya program eksplorasi, presentasi, ASEAN Leaders dan ASEAN Master Chefs. Ibu Astri Rahayu, S.Pd, guru dan Pembina OSIS di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dan menjadi pendamping peserta berkesempatan menjadi pembicara pada panel diskusi Forum Kepemimpinan ASEAN yang bertajuk “Pemimpin Yang Berkualitas Untuk Kemajuan Masa Depan ASEAN” bersama dengan Bapak Shahrul Azuwar Bin Abdul Aziz, Staf Khusus Pengarah Komunikasi Kementerian Keuangan Malaysia.

Kabut Asap dan Tanggung Jawab Kepemimpinan

Oleh: Sulton Kamal

Kuala Lumpur, Rasanya sudah cukup lama betapa banyak orang yang nggrundel (resah), mengumpat dan bahkan mungkin sampai kepada mengutuk dengan keadaan (cuaca) yang semakin tidak bersahabat akhir-akhir ini. Mereka merasakan pernapasannya terganggu kurang lega, dan tidak jarang dibarengi dengan batuk-batuk, sedang matanya pedih dan gatal. Semua ini diakibatkan karena munculnya kabut asap (Asap berdebu hasil pembakaran) yang sudah beberapa bulan datang, hilang, dan datang kembali di langit sekitar lingkungan tempat tinggalnya, Klang Valley (Lembah Klang) Selangor dan Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur serta wilayah lain di Malaysia.

Entah sudah berapa hari sekolah-sekolah diliburkan, dan kapan lagi anak-anak sekolah tidak masuk sekolah, tidak ada yang tahu. Selama ini yang terjadi adalah, pemerintah melalui kementrian pendidikan akan mengumumkan sekolah-sekolah diliburkan karena Index Pencemaran Udara (IPU) angkanya terkadang sudah mencapai 200 bahkan lebih, angka yang menunjukkan kadar udara tercemar yang tidak menyehatkan untuk pernapasan manusia, apalagi bagi anak-anak usia sekolah.

Kalau sudah demikian keadaannya, orang tua yang masih mempunyai anak-anak sekolah mulai cemas menunggu-nunggu pengumuman dari pemerintah setempat atau dari institusi sekolah dimana anaknya bersekolah, tentang peliburan sesi persekolahan karena keadaan kabut asap yang sudah sangat pekat memenuhi ruang langit udara.

Bagi orang tua, di satu sisi merasa kasihan sekali membiarkan anak-anaknya tetap masuk sekolah walaupun menggunakan masker, tapi kondisi cuaca buruk tidak menyehatkan bagi pernapasan buah hatinya. Di sisi lain, orang tua juga kesel (jengkel) mau sampai kapan anak-anak mereka tidak mendapat pelajaran sebagaimana mestinya, karena sekolah lagi-lagi libur secara mendadak disebabkan adanya pengumuman (dari sekolah maupun pemerntah) tentang memburuknya kondisi cuaca.

Ini keadaan yang dialami orang-orang di Semenanjung Malaysia barat. Munculnya kabut asap yang datang dari negeri tercinta, sudah sangat merepotkan aktifitas kehidupan manusia secara umum. Pada satu waktu jerebu (Meminjam istilah orang Malaysia untuk kabut asap pembakaran) datang sangat pekat sekali, ada saatnya jerebu berangsur-angsur menghilang ditiup angin entah kemana, ada ketikanya juga hilang bersama datangnya hujan lebat.

Pada tahun 2015 ini, fenomena kabut asap ini dirasakan kurang lebih mulai sejak akhir Agustus, secara perlahan-lahan tapi pasti ia datang tidak tentu waktu, kemudin menghilang. Kejadian ini berlangsung terus secara berulang-ulang. Dibandingkan dengan di daerah-daerah asal asap yang kemarau, Alhamdulillah disini masih sangat beruntung karena mendapatkan rahmat Allah, berupa hujan yang sesekali turun. Dengan turunnya hujan tersebut jasat renik debu pembakaran yang beterbangan di udara jatuh bersama air ke tanah, nafaspun lega karena udara segar dan cuaca cerah kembali.

Rungutan orang tentang asap ini sungguh sangat bisa dimengerti, mereka yang bertempat tinggal relatif jauh saja sudah sangat terganggu, apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah seperti Riau, Pekanbaru, Dumai, Jambi, Palembang, Palangkaraya, Banjarmasin dan daerah lain yang lokasinya sangat dekat dengan titik-titik api di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan di Papua dll. Bisa dibayangkan betapa nestapanya saudara-saudara kita disana, bukankah udara bersih adalah kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia, bahkan termasuk juga binatang dan hewan ternak.

Jadi derita anak-anak di kawasan berdekatan dengan hutan terbakar, karena tidak belajar di sekolah, atau kalau sekolah terpaksa harus menghirup asap pembakaran yang tak menyehatkan, sangat mengetuk nurani kemanusiaan kita. Demikian juga kesusahan saudara-saudara kita dalam mencari nafkah keseharian, karena terganggu dengan pencemaran udara kotor yang sudah berlangsung sekian lama, sekali lagi sungguh sangat memprihatinkan dan patut kita berempati serta berusaha mencarikan solusinya dengan segera.

Siapa Bertanggung Jawab

Menurut kabar berita, kejadian kabut asap yang membumbung di langit begitu pekat dan ditiup angin kemana-mana itu, berasal dari kebakaran di hutan-hutan di sebagian Sumatra, Kalimantan dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Konon ceritanya para pengusaha yang mendapatkan hak pengelolaan hutan, untuk mengganti kawasan hutan itu dengan tanaman produktif, mereka membebaskannya degan cara mudah yaitu dengan dibakar. Harapannya lahan hutan yang berhektar-hektar luasnya, segera bisa diganti dengan tanaman yang bisa menghasilkan, semisal tanaman pohon kelapa sawit.

Kalau benar seperti itu caritanya, sungguh tidak bertanggung jawab mereka orang-orang yang memberikan kebijakan dan mereka yang mengambil keputusan dengan cara yang sebegitu. Apalagi tindakan itu dibarengi dengan musim kemarau yang memanjang, menjadikan segalanya kering dan mudah untuk terbakar. Ditambah lagi hutan-hutan dan kawasan di Kalimantan terkenal dengan daerah yang bertanah gambut, sehingga tanahpun sangat berpotensi untuk dapat terbakar dan menyumbang terciptanya titik-titik api kebakaran.

Kita tidak bisa menyalahkan begitu saja dengan adanya musim kemarau (Alam) yang berkepanjangan. Kekeringan akibat kemarau panjang adalah mungkin merupakan pemicu sebagian dari terjadinya kebakaran hutan di tanah air. Kalaupun iya alam boleh dipersalahkan, niscaya tidak sampai titik-titik api kebakaran di hutan jumlahnya sangat banyak sekali, sampai 3000an (Bahkan bisa lebih dari itu) titik api di seluruh Indonesia.

Kalimantan Tengah 910, Sumatra Selatan 797, Kalimantan Selatan 231, Jambi 175, Kalimantan Timur160, Riau 39, Kepulauan Riau 2, Bangka Belitung 39, Lampung 8, Kalimantan Barat 22, Jawa Timur 20, dan Jawa Barat 4, total titik api di barat Indonesia berjumlah 2.407.

Sedangkan untuk di wilayah timur Indonesia terdapat 819 titik api, yang mayoritas terdapat di provinsi Papua yaitu sekitar 584 titik api, dan di Papua Barat menyumbang 48 titik, ditambah titik api lokasi lain, seperti Maluku 88 titik api, Maluku Utara 36, Nusa Tenggara Timur 13, Nusa Tenggara Barat 11, Sulawesi Selatan 23, Sulawesi Barat 9, Sulawesi Tengah 6, dan Sulawesi Utara 1, sebagaimana yang diberitakan cnnindonesia.com 21/10/2015.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kejadian ini pasti ada peran manusia, bahkan mungkin malah menjadi penyebab yang utama. Keserakahan segelintir manusialah yang ditengarai menjadi penyumbang terbesar kejadian semua ini. Persis seperti apa yang diingatkan Allah Swt dalam al-Quran surat ar-Rum ayat 41: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. ar-Rum: 41).

Manusialah yang bertanggung jawab penuh dalam masalah ini, oleh karenanya siapapun orangnya apakah dia itu peladang berpindah, pekerja perusahaan perkebunan, pengusaha perkebunan, direksi perkebunan, pemodal, pemimpin-pemimpin daerah, pembuat kebijakan, dan pengambil keputusan baik ditingkat daerah maupun pusat, termasuk jajaran pimpinan level nasional yang secara langsung dan tidak, telah menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem dan terbakarnya hutan tropis yang luas.

Merekalah (Khususnya bagi para pemimpin) yang secara moral pertama kali seharusnya menyadari bahwa tindakannya adalah salah. Lebih dari itu mereka juga sudah sepatutnya bertanggung jawab serta berjanji tidak akan mengulangi lagi tindakannya, karena akibat tindakannya itu ternyata sangat merugikan serta mendholimi masyarakat banyak.

Bagi mereka para pemimpin, musibah ini kiranya sudah dapat dikatagorikan seperti yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi sebagai social sins atau dosa sosial, yaitu pertanggungjawaban moral yang seharusnya dilakukan oleh orang perorang sebagai individu pimpinan, kelompok, atau lembaga kekuasaan, yang telah mengambil sebuah kebijakan keliru, dan akibat kebijakannya itu menyebabkan dampak buruk (merugikan) secara langsung atau tidak, bagi keberlangsungan hidup pihak lain secara umum di muka bumi.

Instrospeksi dan Solusi

Kejadian kebakaran hutan yang hebat, sehingga menyebabkan terjadinya kabut asap dimana-mana, sebenarnya kalau kita mau mengakui bukanlah fenomena yang terjadi sekarang-sekarang ini saja. Hampir semua masyarakat mengetahui, setiap kali datang musim kemarau, maka musibah kebakaran melanda hutan-hutan kita di berbagai daerah terutama sekali di pulau Sumatra dan Kalimantan.

Pemerintah daerah dan pusat serta pemangku kebijakan ditingkat kabupaten/kota maupun propinsi, bahkan di tingkat nasional mungkin sudah berupaya maksimal untuk memadamkan titik-titik api yang membakar hutan tropis kita. Bahkan bantuan dari negara-negara tetangga dan sahabat seperti Malaysia, Singapura, Australia, bahkan Rusia datang silih berganti dengan membawa pesawat udara yang bisa mengangkut air berton-ton sekali terbang.

Tapi sampai sekarang, titik-titik api itu belum berhasil dipadamkan secara signifikan. Ini terjadi karena begitu banyak dan luasnya kawasan yang terbakar sehingga upaya pemadaman menggunakan air yang disiramkan melalui pesawat belum cukup sebanding dengan banyaknya titik-titik api dan bara serta sekam yang ada akibat pembakaran.

Musibah kabut asap ini seharusnya menjadikan manusia, khususnya bagi para pemimpin masyarakat baik di tingkat bawah sampai atas, lokal maupun nasional untuk berinstrospeksi diri, melihat ke dalam, tentang kebijakan dan keputusan yang diambilnya pada masa lalu (selama ini) sehingga mengakibatkan musibah seperti ini.

Dalam catatan memori kita, kebakaran hutan yang berakibat kabut asap ini merupakan peristiwa yang selalu berulang-ulang, mengapa dari tahun ke tahun masih saja terjadi ? Mengapa dan mengapa, menjadi banyak pertanyaan orang. Seolah-olah pemerintah, dalam hal ini para pengambil kebijakan atau para pemimpin negeri ini tidak mengambil pelajaran dari kejadian pada masa lalu, malah sangat mungkin melakukan hal yang sama dengan kebijakan yang sudah-sudah, padahal akibatnya merugikan orang banyak.

Seperti pepatah lama: “Mencegah lebih baik daripada mengobati”, dalam kasus musibah kabut asap ini, penulis merasa bahwa makna yang dikandung dalam pepatah ini sesuai untuk menjadi alternatif terbaik bagi solusi mengatasi kebakaran hutan, (Solusi juga banyak disuarakan oleh kalangan masayrakat) tentu disamping usaha-usaha yang sudah dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan yang telah terjadi.

Seandainya saja bukan “pembakaran” yang dijadikan pilihan untuk mengganti tanaman hutan dengan tanaman produktif. Dan seandainya juga regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah betul-betul ketat dan mengedepankan pencegahan, mungkin musibah tahunan ini bisa dihindari, minimal eskalasi titik api kebakaran hutan kita diwaktu musim kemarau tidak semasif seperti sekarang-sekarang ini.

Yakinlah bahwa semua ini terjadi lebih dikarenakan oleh ulah tangan-tangan manusia sebagaimana Allah juga mengingatkan dengan firmannya dalam al-Quran surat asy-Syura, ayat 30: “Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan-kesalahanmu)”.

Adapun upaya terakhir yang bisa dilakukan untuk mengatasi musibah kebakaran yang sudah berlangsung lama ini, sekaligus membantu saudara-saudara kita terbebas dari derita menghirup asap kebakaran hutan, adalah mengharap agar para pemimpin kita dan seluruh elemen bangsa ini, mau bertaubat dan mengakui atas segala dosa dan kesalahan-kesalahannya, selama ini.

Kemudian, karena titik api kebakaran hutan yang begitu luas sehingga sangat menyulitkan untuk bisa memadamkannya secara keseluruhan, kecuali bila hujan lebat turun secara merata. Oleh karena itu ada baiknya “meyerah” seraya mengakui kebesaranNya dan mengembalikan pemadaman musibah kebakaran hutan ini kepada Allah.

Ada baiknya dimulai dari para pemimpin untuk mengajak kepada pemuka-pemuka agama bersama-sama masyarakat umum untuk menyelenggarakan sholat istisqo (Meminta hujan) dimana-mana, dan berdoa kepada Allah agar segera menurunkan hujan yang bisa memadamkan titik-titik api dan melenyapkan asapnya. Wallahu A’lam (Sltn)

Atdikbud KBRI KL adakan Kompetisi Sains dan Seni di SIKL

Kompetisi sains dan seni (KS2) Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) se- Malaysia dibuka secara resmi oleh Duta Besar dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Pemerintah Kerajaan Malaysia Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno.

Sebelum memukul gong pertanda dimulainya ajang kompetisi sains dan seni tersebut, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI sekaligus Plt. Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi ajang pembuktian bahwa SILN tidak kalah baiknya dibandingkan dengan sekolah di dalam negeri. “Bahkan tindak lanjut kegiatan ini akan dilanjutkan sampai tingkat regional dan internasional” katanya.

Sementara itu, ketua panitia Alpansyah, M.Pd melaporkan tentang jenis kompetisi pada tingkat SD, SMP, dan SMA yaitu Kompetisi IPA, MM, FISIKA, BIOLOGI, Menyanyi Solo,  Pidato Bahasa Indonesia, Laporan Eksperimen, dan Karya Tulis Ilmiah. Berkaitan dengan peserta kegiatan, SIKL sebanyak 21 orang, SIKK sebanyak 21 orang, Rintisan Sekolah Indonesia Johor Bahru sebanyak 9 orang, turut juga mengirim peserta seluruh CLC Serawak dan bagian Malaysia lainnya.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan Wakepri sekaligus Ketua BP SIKL H. Hermono, Kasubbag PKLN, Tim Juri dari Kementerian Pendidikan dan Juri Lokal Kuala Lumpur, Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Ketua Komite Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, guru pendamping, beserta seluruh peserta yang akan berkompetisi.

Refleksi Tahun Baru Islam 1437 H

Refleksi Tahun Baru Islam 1437H Sekolah Indonesia Kuala Lumpur diisi dengan berbagai kegiatan kreasi siswa di hall sekolah tersebut (21/10). Peringatan Tahun Baru Islam kali ini disertai dengan Pelantikan Pengurus Rohis SIKL Periode 2015-2016.

Ketua Rohis yang dilantik M. Ali Naufal didampingi sekretaris M. Anindiya Hiroshi menyatakan bahwa kegiatan ini bertema Tahun Baru Islam 1437H sebagai momentum perubahan sikap dan perilaku menuju manusia berkarakter Islami. Dia menambahkan, bahwa kegiatan ini diisi dengan penampilan berbagai musik religi, bilingual speech, puisi, peragaan fashion Islami, tahfidz al-qur’an, dan taushiyah serta dzikir bersama.

Pelaksana Kepala Sekolah SIKL Prof. Ari Purbayanto dalam sambutannya mengatakan agar tahun baru Islam kali ini harusnya dijadikan sebagai momentum lanjutan untuk memperbaiki diri serta mengevaluasi seluruh perbuatan sehingga terbentuk pribadi yang utuh dan berakhlakul karimah.

Sementara itu, ustadz Irfan Al-hakim dalam taushiyahnya menyampaikan peristiwa- peristiwa penting yang terjadi di bulan Muharram, antara lain : selamatnya Nabi Nuh dan umatnya dari banjir bandang, peristiwa nabi Adam dan Hawa memakan buah terlarang, dan menutup taushiyah dengan dzikir dan do’a.

Pengumuman Libur

PENGUMUMAN

No. Istimewa-SIKL/10/04-102015

Dengan hormat,

Penyikapi perkembangan  kondisi pencemaran udara di Kuala Lumpur sampai hari ini (Minggu, 4 Oktober 2015) dan surat edaran dari Kementerian Pendidikan Malaysia agar sekolah meliburkan kegiatan pembelajaran pada tanggal 5 s.d. 6 Oktober 2015, disampaikan hal-hal berikut :

1. Sekolah Indonesia Kuala Lumpur untuk hari Senin, 5 Oktober 2015 diliburkan.

2. Untuk hari Selasa, 6 Oktober 2015 libur atau tidak akan diinformasikan kemudian, menunggu keadaan kondisi cuaca udara di Kuala Lumpur.

3. Jadwal UTS untuk hari Senin 5 Oktober 2015 dipindahkan ke hari Senin 12 Oktober 2015.

4. Agar orangtua/wali murid senantiasa tetap membimbing putra/putrinya belajar di rumah untuk menghadapi UTS.

Demikian pengumuman ini disampaikan, agar menjadi maklum. 

 

Kuala Lumpur, 4 Oktober 2015

Waka kurikilum SMA

Sungkono, S.Pd, M.Si

 

Tembusan :

1. Yth. Ketua BPSIKL

2. Yth. Atase Pendidikan KBRI KL

3. Yth.Ketua Komite Sekolah

4. Arsip. 

Catatan:

Surat elektronik, tandatangan tidak diperlukan. 

Dubes KBRI KL resmikan gelanggang futsal SIKL

Sekolah Indonesia Kuala lumpur (SIKL) kembali melengkapi sarana pendidikan berupa Gelanggang Olahraga/Lapangan Futsal seiring diresmikan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Malasyia Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno didampingi Wakepri Hermono sebagai pejabat pembuat komitmen pengadaan sarana tersebut.

Turut hadir dan memberikan sambutan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Prof. Ari Purbayanto didampingi Kepala Sekolah SIKL H. Banjir Sihite sesaat sebelum keduanya melakukan serah terima jabatan berkaitan dengan berakhirnya masa jabatan Kepala Sekolah Kuala Lumpur (SIKL).

Dalam laporannya, Hermono sebagai pejabat pembuat komitmen menyatakan bahwa pembangunan gedung tersebut selama 5 bulan dan menelan dana sekitar RM 380 ribu. Beliau juga menyatakan bahwa tingkat keamanan lapangan didesain sedemikian rupa sehingga cedera siswa saat bermain bisa ditekan.

Dalam sambutannya, Dubes RI menyampaikan agar gelanggang tersebut dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menciptakan generasi yang selain cerdas intelektual, emosional dan spiritual namun disertai dengan sehat jasmani dan rohaninya. “Saya orang yang berkeyakinan, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”, imbuhnya.

Turut menyaksikan seluruh pejabat teras KBRI, guru/staf SIKL, Pengurus OSIS, dan unsur pelaksana proyek pembangunan gelanggang tersebut.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pennguntingan pita oleh Ibu Herman Prayitno, disertai dengan tendangan bola pertama Dubes RI untuk kerajaan Malaysia ke gawang yang dijaga wakepri Bapak hermono, dan gemuruh “gooool” gemuruh merebak di gelanggang tersebut.

OSIS Bagikan masker, menyikapi kondisi cuaca di Kuala Lumpur

(Kuala Lumpur), Menyikapi kondisi udara yang memburuk karena adanya kabut asap di beberapa wilayah di Malaysia termasuk di kuala Lumpur, Pengurus OSIS SIKL hari selasa kemarin (15/9/2015) berinisiatif membagikan masker kepada seluruh siswa2 SIK secara gratis. Riadi, Ketua OSIS SIK 2015 menyatakan, ide untuk membagikan masker kepada siswa/i SIK ini didasarkan atas keprihatinannya berkaitan dengan kondisi udara di Kuala Lumpur yang bisa mengganggu kesehatan dan menghambat  kelancaran proses pembelajaran di sekolah.

Pembagian masker gratis ini di awali dengan pemakaian secara simbolis oleh  Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dan dilanjutkan dengan pemasangan masker secara serentak. Pemakaian masker di lingkungan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur diharapkan bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh asap kebakaran hutan tersebut. Siswa/i juga disarankan untuk mengurangi aktifitas di luar ruangan untuk menghindari penyakit/gangguan pernafasan yang bisa ditimbulkan dari sebaran asap ini.(AR)