KS2O, Bukti Perjuangan Kompetisi Anak Indonesia di Luar Negeri

Kuala Lumpur – SIKL: Beberapa pekan kebelakang, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur menjadi tuan rumah untuk Kompetisi Sains, Seni dan Olahraga untuk siswa Indonesia tahun 2018. Sebanyak 161 siswa dari 7 Sekolah Indonesia Luar Negeri yang ada di wilayah Asia Tenggara yakni Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sekolah Indonesia Johor Bahru, Sekolah Indonesia Singapura, Sekolah Indonesia Bangkok, Sekolah Indonesia Yangon, Sekolah Indonesia Davao serta 3 Community Learning Center di Sabah A, Sabah B dan Serawak hadir menyemarakkan acara yang berlangsung selama 3 hari itu.

Berbagai mata lomba dilaksanakan untuk menggali potensi dan menampung aspirasi serta bakat siswa, dari mulai lomba yang bersifat akademik, seni, olahraga dan bahasa. Tim juri pada kompetisi ini juga tidak main-main. Para juri profesional didatangkan khusus dari Indonesia untuk menciptakan iklim lomba yang kompetitif dan fair.

Melihat persiapan para kontingen yang hadir, sulit membayangkan bagaimana mereka akhirnya mampu berkompetisi satu sama lain. Kendala mereka sudah dimulai sejak proses pendaftaran peserta. Banyak peserta yang terancam gagal berangkat ke Kuala Lumpur karena terkendala masalah dokumen. Kebanyakan siswa yang berasal dari Sabah dan Serawak memang merupakan pendatang ilegal yang masuk ke wilayah Malaysia tanpa memiliki dokumen kewarganegaaan yang valid. Jangankan paspor, akta kelahiran pun mereka tidak punya. Anak-anak Indonesia berada di Malaysia, terutama yang tinggal di perkebunan sawit memang memiliki keterbatasan baik dari segi ekonomi maupun akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka ini kemudian ditampung di CLC-CLC yang tersebar di ladang-ladang sawit di wilayah Malaysia.

Namun jangan tanya semangat mereka berkompetisi. Ketika mereka mendarat di Kuala Lumpur International Airport sebelum menuju pusat kota Kuala Lumpur, tak sedikitpun terlihat raut kelelahan di wajah mereka. Banyak dari mereka yang sebetulnya baru menginjakkan kaki ke Kuala Lumpur. Bahkan ada yang memang baru pertama kali naik pesawat terbang.

Lomba mereka persiapkan dengan sangat baik. Seleksi wilayah telah membawa mereka menjadi wakil peserta lomba, yang berarti  kemampuan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.Properti lomba yang mereka bawa pun  tidak tanggung-tanggung. Mereka memang tidak ingin setengah-setengah. Mereka memang ingin menjadi juara. Mereka ingin membawa kemenangan itu untuk teman-teman mereka di ladang sawit, untuk membuktikan bahwa anak ladang pun mampu berkompetisi dan berprestasi.

Binar kebanggaan terpancar saat pengumuman pemenang tiba. Satu mata lomba bergengsi berhasil direbut oleh siswa CLC Sabah. Emas berhasil direbut anak ladang untuk mata lomba olimpiade  Sains. Menjadi satu bukti bahwa anak ladang tidak bisa dianggap remeh, bahwa walaupun dengan sarana yang terbatas tetapi dengan tekad dan semangat,  mereka mampu menjadi pemenang dan bersanding dengan siswa-siswa berprestasi lainnya.

Juara umum dan piala bergilir KS2O 2018  memang milik Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Tapi semangat bertanding dan berkompetisi menjadi yang terbaik di Asia Tenggara telah merasuk kedalam jiwa seluruh anak Indonesia yang ada di luar negeri. Semangat inilah yang bisa menjadi modal keberhasilan dan kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. [AR]