Penerapan CTL pada Pelajaran Agama di SIKL

Kuala Lumpur – Pelajaran agama di sekolah bukanlah subject yang melulu diajarkan dengan pendekatan kognitif. Lebih dari itu, pelajaran ini sesungguhnya ketika diajarkan, memerlukan pola pengajaran yang menekankan pada kompetensi ranah afektif dan motorik para peserta didiknya. Ini karena pelajaran agama merupakan salah-satu bidang study yang mementingkan unsur penerapan dalam sikap berperilaku dan pengamalan secara nyata dalam kehidupan setiap hari.

Dalam rangka pembelajaran yang efektif, sekaligus mengenalkan para peserta didik di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dengan pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif peserta didik, khususnya dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI & BP), maka pada tahun pelajaran 2017/2018 semester ke-dua yang sedang berjalan, murid-murid jenjang SMP diberikan suasana yang lain dari biasanya yaitu pelaksanaan pembelajaran di luar kelas.

Belum lama ini, murid-murid kelas VII.1 dan VII.2 SIKL ketika mempelajari pokok bahasan: Menumbuhkembangkan sikap Empathy, mereka melaksanakan kunjungan ke Rumah Kebajikan/Panti Asuhan Anak Yatim yang ada disekitar Kuala Lumpur. Mereka ditugaskan oleh gurunya untuk melihat bagaimana kehidupan anak-anak yang nasibnya kurang beruntung. Masing-masing dari mereka juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi memberikan bingkisan, bermain, bercengkrama dan bergaul bersama para penghuni panti asuhan secara langsung.

Adapun Rumah Kebajikan yang dikunjungi adalah Rumah Titian Kaseh yang beralamatkan di No.15 Jalan Persiaran Titiwangsa Taman Tasik Titiwangsa 53200 Kuala Lumpur (5/3/2018) dan No. 5 Jalan 1/21C Taman Suria Setapak  Batu 4 Jalan Gombak (28/32018). Di kedua tempat ini selain para peserta didik menjalankan kegiatan sebagaimana ditugaskan oleh gurunya, mereka juga menyerahkan sejumlah uang sumbangan yang telah terhimpun dari orang tua siswa dan para aghniya di seputar lingkungan sekolah mereka.

Sedangkan murid-murid kelas VIII.1 (13/32018) dan VIII.2 (22/3/2018), masih pada jenjang yang sama SMP. Pada pokok bahasan: Makanan dan Minuman yang halal, mereka ditugaskan mempraktikkan bagaimana menyediakan makanan yang halal, baik dari segi bendanya, prosesnya, maupun bagaimana mendapatkannya. Masing-masing kelompok dari para peserta didik diminta untuk menyiapkan makanan halal dengan penekanan pada aspek prosesnya.

Oleh karenanya setiap kelompok dari mereka mempraktikkan bagaimana proses penyembelihan hewan ternak (Dalam hal ini dari jenis unggas: Ayam) yang baik menurut ajaran agama Islam. Mereka juga secara bergotong-royong memproses, memasak, dan menyajikannya. Dari A sampai Z kegiatan ini para peserta didiklah yang melakukan, dari mulai merencanakan, iuran, mempersiapkan peralatan, membeli ayam, menyiapkan bumbu, menyembelih, hingga mengolahnya dalam bentuk makanan siap saji yang akan mereka konsumsi bersama-sama.

Secara umum tujuan pembelajaran model ini, sebagaimana biasa dikenal dengan Contextual Teaching Learning (CTL) adalah untuk untuk memotivasi siswa dalam memahami materi pelajaran yang dipelajarinya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Sebagaimana diungkapkan oleh guru PAI mereka Sulton Kamal, S.Ag dalam pengarahan sebelum aktifitas pembelajaran ini dimulai: “Para siswa perlu ditunjukkan dan dibimbing secara kontektual dalam kegiatan pembelajaran, hal ini penting untuk memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik tentang kaitan antara pengetahuan yang dipelajari dengan realitas yang harus mereka hadapi dalam kehidupan di masyarakat”.

Dengan variasi pembelajaran diluar kelas seperti ini diharapkan peserta didik mampu menerapkan semangat ajaran agama dalam dimensi yang lebih luas, dan bukan sekedar pengetahuan semata. Murid-murid kelas VII bisa merasakan langsung makna pembelajaran Empathy sekaligus mempraktikkan perintah Tuhannya sebagaimana tertera dalam al-Quran Surat al-Mauun.

Sedangkan mereka yang duduk kelas VIII mampu secara practical dalam memahami makanan yang halal dan thoyib dari berbagai aspek, baik bendanya, cara memperolehnya dan juga bagaimana mengolahnya. Selain itu mereka jadi mengerti tentang apa yang mereka konsumsi, tidak seperti yang selama ini mereka alami yaitu hanya mengkonsumsi saja tanpa mengetahui bagaimana makanan itu diproses. (Sltn)