SIKL Selenggarakan Homestay Bagi Siswa-siswi Australia

Kuala Lumpur – Dalam rangka mewujudkan visinya sebagai sekolah yang berkualitas Internasional, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) telah mengadakan kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan, khususnya dari Negara-negara yang tergabung dalam Organization of Economic Cooperation and Development (OECD), salah satunya adalah Australia. Sebagai tindak lanjut dari upaya pencapaian visi tersebut maka pada 20 September 2011 ditandatanganilah surat perjanjian hubungan dua sekolah (Sister School Letter of Intent) antara SIKL dan Ferny Grove State High School Brisbane Australia.

Kemudian untuk menindaklanjuti hal tersebut kedua sekolah bersepakat mengirimkan para siswanya untuk berkunjung ke masing-masing sekolah dan melakukan program homestay baik di Australia maupun di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, demikian sebagaimana disampaikan Drs. Banjir Sihite, M.Pd dalam laporannya ketika membuka pelaksanaan homestay siswa-siswi Ferny Grove State High School Brisbane, Australia di sekolah Indonesia Kuala Lumpur dari 3-6 April 2013.

Sedangkan Prof. Rusdi selaku Atdikbud KBRI Kuala Lumpur dalam sambutannya mengatakan bahwa, kegiatan homestay seperti yang dilaksanakan baik di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur maupun di Ferny Grove State High School Brisbane, Australia sangat penting artinya bagi para siswa kedua sekolah. Ini adalah sejarah bagi masing-masing siswa sekolah bersangkutan, mereka bisa menjalin persahabatan sejak sekarang dan siapa tahu persahabatan ini berlangsung sampai ketika mereka menjadi pemimpin kedua Negara, Indonesia dan Australia.

“Sebenarnya kedatangan siswa-siswi dari sekolah Ferny Grove ini adalah sebagai kunjungan balasan dari pihak Australia kepada Sekolah Indonesia”: Ujar Nunik Heri Wahyuni, ketua panitia homestay Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. “Pihak SIKL sebenarnya pada 9-14 Juli 2012 telah mengirim ke Ferny Grove State High School Brisbane Australia 9 siswa didampingi 2 orang guru  untuk berkunjung dan melakukan homestay disana” : Tambah ibu guru yang sehari-hari menjadi Wakil Kepala Sekolah bagian hubungan masyarakat (Humas) Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Homestay yang berlangsung empat hari itu diikuti oleh 18 siswa Australia didampingi 3 orang guru pembimbing dan 1 orang dari Komite Sekolah, mereka tinggal berbaur bersama keluarga orang tua siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur sebagai orang tua asuh dan saudara asuh selama pelaksanaan kegiatan homestay. Selama mereka bersama keluarga asuh, diharapkan untuk selalu menggunakan Bahasa Indonesia dan mengikuti pola hidup ala keluarga Indonesia.

Selama mereka mengikuti kegiatan ini, siswa-siswi yang kebanyakan terdiri dari kelas 10, 11, dan 12 SMA mempelajari Bahasa Indonesia, Permainan Tradisional (Englek dan Benteng), Tari Poco-poco, Membatik, dan Angklung serta sosial budaya bangsa Indonesia melalui pengalaman hidup bersama dengan keluarga asuhnya.

“Kami bersama teman-teman sekolah Ferny Grove sangat berterimakasih sekali kepada pihak Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, teman-teman pelajar SIKL, maupun keluarga asuh yang telah menerima kami dengan penuh kekeluargaan. Kami merasa sangat beruntung bisa mengenal lebih dekat masyarakat Indonesia, belajar bahasa, adat kebiasaan, dan kebudayaannya melalui program yang sangat bermanfaat ini”: Demikian kesan yang disampaikan oleh Ashleigh Shea, salah satu peserta homestay sekaligus juara I pemenang lomba bercerita dalam Bahasa Indonesia yang disampaikan ketika penutupan kegiatan di Aula Hassanudin KBRI Kuala Lumpur.

Sementara itu Fiona Hudghton, guru pembimbing sekaligus ketua rombongan Ferny Grove yang dikenal oleh panitia homestay dan guru-guru di SIKL dengan sebutan Bu Fi, megatakan bahwa dirinya mewakili sekolah Ferny Grove sangat terkesan dengan keramahtamahan keluarga Indonesia. Siswa-siswi kami juga merasa senang bisa berkawan, bermain dan belajar bersama pelajar-pelajar di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Mereka mendapatkan wawasan dan pengetahuan, serta pengalaman yang berharga selama kegiatan homestay berlangsung. Bahkan menurut perempuan paruh baya yang fasih berbahasa Indonesia itu, tahun depan mereka akan melaksanakan homestay selama sepuluh hari atau minimal seminggu, karena waktu empat hari dirasa sangat singkat sekali. (Sltn)  

Leave a Reply