Memberikan yang Terbaik untuk Siswa dan Sekolah

Kuala Lumpur, Buletin Cantrik (14/8) – Kebanyakan kaum hawa selalu menghadapi masalah yang sulit ketika mereka dihadapkan pada pilihan mengutamakan keluarga atau menekuni jenjang karier. Idealnya adalah keduanya, tetapi bukan tidak mungkin kenyataan yang terjadi malah sebaliknya: keluarga tidak terurus dan karier pun tidak berkembang. Namun, tidak demikian halnya dengan Ibu Elslee Y.A. Sheyoputri yang pernah meraih predikat guru berprestasi sekaligus kepala sekolah berprestasi tingkat nasional ini. Dalam waktu yang relatif singkat perjalanan kariernya sebagai tenaga pendidik (guru) seakan melesat, ia pun melenggang menjadi kepala sekolah yaitu SMKN 32 DKI Jakarta sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai kepala sekolah berprestasi tingkat nasional. Tidak hanya sampai di situ, tahun 2009 Bu Elslee (demikan beliau sering disapa) menjadi Kepala Sekolah Indonesia Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Di tengah-tengah kesibukan Bu Elslee menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) wartawati Buletin Cantrik, Nunik Heri Wahyuni sempat mewawancarai beliau. Berikut petikan wawancara dengan Bu Elslee Y.A. Sheyoputri yang menjadi profil pada edisi kali ini.

Tanya: Sebagaimana yang pernah Ibu jelaskan, sebelum menjadi guru, Ibu lebih mengutamakan keluarga terlebih dahulu, apa motivasi Ibu untuk menekuni profesi guru ini?

Jawab: Saya memilih profesi guru dengan sadar. Salah satu alasannya adalah saya mau menjadi guru yang baik. Kalau semua guru berpikir pada penghasilan saja, mau dibawa ke mana negara kita. Hanya orang-orang yang idealis yang mau masuk IKIP (waktu itu-red) dan benar-benar mau jadi guru. Itulah motivasi saya, mau memberikan yang terbaik kepada murid-murid saya.

Tanya: Apakah kunci sukses Ibu?

Jawab: Berikan satu keputusan apa yang kita inginkan dalam hidup. Selebihnya adalah kerja keras, keteguhan hati dan ketulusan. Sama seperti saya mau masuk ke sini (bertugas di SIKL-red). Rintangan apa pun saya lakukan adalah untuk sebuah perubahan. Bahwa ada kendala harus saya hadapi itu adalah resiko, tantangan.

Tanya: sampai sekarang Ibu masih meneruskan S3, bagaimana cara ibu membagi waktu bekerja dan belajar?

Jawab: Saya memegang sebuah ungkapan bahasa Latin “Nemo dat qoud non habet”, kalau diartikan kita tidak dapat memberi kalau kita tidak memiliki apa yang akan diberi. Kita tidak bisa memberikan apel kalau tidak punya apel, kita tidak bisa memberikan sepotong roti kalau kita tidak punya roti. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik kepada murid-murid saya dan sekolah. Bagaimana saya memberikan yang terbaik. Saya sekolah agar lebih baik dari hari ke hari.

Kalau saya mendorong guru-guru untuk sekolah lagi, sementara saya sendiri tidak menunjukkan minat sekolah, kapan saya bisa menjadi contoh. Belajar ada prioritas. Ada waktunya. Ketika saya santai saya akan membaca. Tetapi di sini saya akan mengerjakan pekerjaan sekolah. Hidup di sini untuk anak-anak SIKL. Apa pun untuk anak-anak dan SIKL akan saya lakukan. Tantangan apa pun akan saya hadapi. Termasuk ketidakpuasan. Tidak mudah memuaskan banyak orang. Kalau kita bermain aman artinya kita tidak siap melakukan perubahan apa pun.

Tanya: Bagaimana cara belajar yang baik menurut Ibu?

Jawab: Belajar yang baik harus sedikit-demi sedikit dan berkelanjutan. Kita selalu melakukan hal itu sebagai sebuah kebiasaan. Belajar juga merupakan sebuah kebiasaan. Saya tidak melewatkan satu hari pun tanpa aktivitas membaca. Saya menargetkan diri saya dalam membaca buku. Saya membaca majalah, koran online: Gatra, Tempo, Kompas, News Week, novel dan buku-buku yang saya anggap dapat memotivasi saya. Bila kita berhenti membaca, kita sulit untuk menerima perubahan. Bila kita tidak mau berubah berati kita menjadi dinosaurus.

Tanya: Ibu punya pesan-pesan?

Jawab: Saya selalu mengatakan kepada anak-anak kita, “Jadi baik dulu”. Rata-rata anak Indonesia lahir cerdas, tetapi kecerdasan itu kalau tidak mendapatkan arahan yang baik akan berujung pada akal bulus. Kalau diarahkan dengan baik anak-anak akan tumbuh dengan akal budi. Beda yang besar antara akal bulus dengan akal budi.

Leave a Reply