UNBK : The End or Begin.

Masih agak temaram, pagi ini peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), yaitu kelas 12 IPA dan 12 IPS berangsur-angsur hadir ke sekolah untuk menyelesaikan tugas terakhirnya. Walaupun proses ujian dilaksanakan pada pukul 07.30, namun mereka hadir lebih cepat. Menurut saya perilaku ini menunjukkan etos belajar yang bagus.

Sebelum masuk ke ruang laboratorium komputer, tempat pelaksanaan ujian, ternyata mereka terlebih dahulu sharing informasi tentang kemungkinan soal yang muncul, paling tidak memulihkan ingatan mereka tentang rumus tertentu. Hari ini memang mata pelajaran yang diuji adalah pelajaran yang pilihan terdiri dari ekonomi, sosiologi, fisika dan kimia.

Beberapa hal yang saya amati pagi ini, entah karena hari terakhir ujian, mereka semua kelihatan lebih guyub dan mesra. Muncul pribadi yang ingin melayani, ingin berbagi informasi, ada yang menata kartu ujian untuk memudahkan temannya, dan membagi kertas buram sebagai alat pendukung pengerjaan ujian.

Biasanya saya melihat di wajah mereka beban berat jelang ujian, tetapi tidak hari ini. Justru mereka kelihatan lebih enjoy dan menikmati ujiannya.

Memang begitulah seharusnya karakter yang diharapkan. Munculnya karakter yang tidak pelit dengan ilmu, suka melayani atau menolong, bahkan tidak stress menjelang ujian sesungguhnya akan mendukung kemampuan mereka dalam mengerjakan soal yang datang. Kalaupun nilai yang diperoleh tidak memuaskan, minimal mereka telah menyerap sisi karakter yang tersaji dalam pergaulannya.

UNBK sebenarnya bukan akhir perjalanan peserta belajar. Justru UNBK hanya sebuah tahapan menuju proses belajar berikutnya, khususnya di Perguruan Tinggi.

Seandainya etos dan perilaku yang muncul hari ini dapat diperkuat dan ditingkatkan, maka pasti akan menjadi pemicu bagi mereka dalam proses adaptasi dan kompetisi sehat pada masa mendatang.

Walaupun mereka tidak sempurna, saya kok merasa optimis peserta belajar hari ini akan mampu mengambil peran yang besar sebagaimana layaknya generasi muda cemerlang. “Anak-anakku, do’a terbaik kami untukmu” (Armasnyah Harahap)